Aku memang tak sepandai saudara-saudaraku untuk
membahagiakan emak. Aku mulai teringat betapa sering kata-kataku melukai hati emak pada
saat aku masih tinggal bersama emak dalam satu rumah sampai meneteskan air mata
emak untuk beberapa kali. Semua mulai tergambar utuh.betapa aku selalu
menyia-nyiakan emak saat aku senang dan bahagia. Tetapi emak selalu
memperdulikanku saat aku begitu terpuruk dalam kesulitan.
Kesalahan demi kesalahan begitu banyak aku lakukan
pada emak dari dulu sampai sekarang. Aku tahu emak sudah pasti memaafkan tapi
aku ingin sekali mengucap maaf pada emak sambil menatap wajah tuanya namun tak
pernah mampu. Mungkin karena kesalahan ku pada emak tak terhitung banyaknya.
Teringat kata-kata emak yang sering emak lontarkan
“emak paling sayang kepada mu nak di antara anak emak yang lain. Karena kamu
satu-satunya harapan emak yang bisa diandalkan”. Bagiku kata-kata itu hanyalah
suatu cara emak untuk memotifasiku bahkan mungkin sebatas pujian rasa kasih
sayang seorang ibu pada anaknya. Tapi tatapan emak begitu menyentuh hatiku saat
itu rasanya begitu nyata dan tulus untuk ku.
Pertanyaan dan pernyataan emak semakin membelenggu
membuatku berfikir penyebab dari sebuah akibat. Namun aku selalu tak juga aku
dapatkan jawaban dari kejadian itu.
Sampai ahirnya aku harus memejamkan mata
menghadirkan emak dalam hayalku:
Emak …….
Kini emak harus tahu, aku sangat sayang padamu mak …..
Cacian-cacian itu ku lontarkan bukan untuk
menyakitimu mak atau membenarkan diri dari kesalahan ku namun hanya karena aku
tak mampu mengucap kata sayang didepanmu …..
Aku selalu tidur bukan karena kemalasan ku, aku
hanya mencoba melupakan semua masalah ku karena tak pernah mampu membahagiankan
emak …..
Maafkan aku ya mak karena sampai saat ini belum bisa
memberikanmmu apa-apa meski hanya sepatah kata “sayang”…..
Mak,, rasanya aku ingin menjadi bayi kembali agar
aku tetap dalam pelukan hangatmu ……
Aku ingin sekali bermain bersama emak tanpa harus
malu dan rasa gengsi seperti kecilku dulu.
Aku sadar saat ayah mengajariku arti ketegasan
sampai aku menangis tersendu-sendu, emak mengajariku arti cinta dengan pelukan ….
Aku ingin emak masih sehat selalu agar aku bisa
memperdengarkan kata maaf pada emak saat kita jumpa nanti ……
Betapa emak begitu perduli dan selalu tahu dengan
keadaan ku meski selalu ku tutup-tutupi. Aku sadar aku tak akan mampu
membayaranya bukan karena tak berharga tapi karena harganya sungguh luar biasa.
Semakin sulit jika harus ku takar untuk ku kutukar kebaikan-kebaikan emak
padaku. Namun ahirnya aku sadar jika aku tak akan pernah mampu kembali seperti
dahulu kala dimana aku bisa bersenang-senang, bermain, menangis dan memeluk
emak tanpa ego dan malu. Saat emak sudah tak bisa lagi berdiri, mungkin tak akan
ada yang perduli membantu emak untuk berjalan. Saat emak tak dapat lagi
menyuapkan nasi sendiri, mungkin tak aka nada yang sudi untuk menyuapi emak
untuk makan. Saat itu aku harus tumbuh dewasa agar setidaknya emak tidak
kesulitan mengerjakan apapun yang emak mau.
Begitu sering aku bersopan santun dihadapan orang
tua lainnya yang tidak aku lakukan kepada emak. Begitu mudah aku aku mengucap kata
maaf kepada orang tua-orang tua lainnya tapi tidak kepada emak. Bukan karena
aku tak menghormati emak seperti aku menghormati mereka, tapi karena kasih
sayang aku kepada emak tak ada yang menyerupainya.
Kesabaran emak begitu kuat dan hebat
-
Hamim Sta -

Tidak ada komentar:
Posting Komentar